Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2020

Memahami Kelemahan Manusia


MEMAHAMI KELEMAHAN MANUSIA

       1.      Pendahuluan
              Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kesempurnaannya bisa dilihat dari fisiknya yang sangat indah dibanding makhluk-Nya yang lain. Dengan akalnya, manusia bisa menutupi tubuhnya sehingga nampak lebih cantik atau ganteng. Begitu pula dengan jiwa artistiknya, manusia bisa menghias dirinya menjadi lebih dari sekedar manusia tetapi nampak seperti bidadari.

              Manusia yang bisa menggunakan kecerdasan akal dan kesucian jiwanya bisa menyamai malaikat dalam hal kebaikannya. Dalam hal ini, Allah dengan jelasnya menyebut manusia sebagai ahsan taqwiim (=sebaik-baik bentuk).[1] Namun demikian, manusiaa juga dilengkapi dua potensi yang saling bertentangan dalam satu kondisi yaitu potensi positif (taqwa) dan poptensi negatif (fujur).[2] Itulah sebabnya, dalam kondisi yang sama, ada manusia yang berbuat baik dan ada manusia yang buruk. Sebagai contoh, ketika menerima cobaan, ada manusia yang sabar ada manusia yang terus mengeluh. Begitu pula, ketika menerima nikmat, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur.

              Sisi kelemahan manusia perlu dikenali sehingga muncul sikap yang arif baik manusia itu sendiri maupun manusia yang berada di sekitarnya. Bagi diri sendiri, memahami kelemahan manusia akan menumbuhkan sikap waspada dan berhati-hati baik dalam tutur kata, perbuatan, ataupun sikap. Manusia semestinya bersikap bijaksana ketika mendapati manusia lain bertutur kata, bertindak maupun bersikap yang bertentangan dengan tatanan yang baik dan benar. Lalu apa kelemahan yang ada pada diri manusia? Allah telah menjelaskan kelemahan tersebut dengan rinci dalam Alquran.

2.      Kelemahan Manusia menurut Alquran

             Kelemahan manusia atau bisa disebut sebagai potensi negatif telah dijelaskan oleh Allah dalam Alquran sangat banyak. Dalam tulisan ini, hanya akan diuraikan beberapa saja sekedar sebagai pengantar untuk memperbaiki manusia menjadi lebih baik.

             Kelemahan pertama adalah manusia diciptakan dalam keadaan lemah ( Khuliqal insaanu dha’iifa ).[3] Kelemahan manusia sudah diberitakan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Jika dihubungkan dengan ayat sebelumnya, kelemahannya dalam  hal tidak bisa mengendalikan syahwatnya sehingga sering berbuat dan bertindak yang melampaoi batas. Ayat sesudahnya memberikan sinyal bahwa kelemahan manusia terletak pada hal hanya berpikir kebutuhan jasmani sehingga sering ambil makanan tanpa memperhatikan halal atau haramnya, berkah atau madharatnya.[4]
              Kelemahan kedua adalah manusia dalam keadaan tergesa-gesa ( Wakaanal insaanu ‘ajuulaan ).[5] Ketergesaan manusia nampak pada segera keinginannya dikabulkan oleh Allah. Manusia yang kufur ingin segera melihat azab-Nya. Mereka menantang Rasul-Nya untuk segera mendatangkan azab yang dijanjikan bagi yang kufur ayat padahal Allah SWT juga mengancam untuk segera mendattangkan segera azab yang mereka minta.[6] Manusia juga sering permohonan dalam doanya segera dikabulkan. Doa manusia pasti dikabulkan Allah SWT.[7] Allah mengabulkannya dalam tiga cara, yaitu:
a.      Dikabulkan saat itu juga,
b.      Ditunda untuk diberikan di akhirat,
c.       Dijauhkan dari coba yang semestinya menimpanya.[8]

              Kelemahan ketiga adalah manusia selalu berkeluh kesah ( Innal insaana khuliqa haluu’a ).[9] Keluh kesah itu nampak sekali ketika musibah atau cobaan menimpanya. Kadang-kadang, saat mendapat nikmat pun masih sempat berkeluh kesah karena dirasa kurang sesuai dengan keinginannya. Manusia tidak bersyukur bahwa hidup itu sendiri sudah sepaket dengan nikmat yang Allah berikan bahkan mereka tidak mampu menghitungnya. Mereka tidak memperhatikan penghuni rumah sakit karena sakitnya, penghuni kamp pengungsian karena musibah menimpanya. Sudah semestinya, manusia bisa bersabar saat mendapatkan musibah, dan bersyukur saat mendapatkan nikmat.

              Kelemahan keempat adalah manusia mudah putus asa ( Innahuu lauusun kafuur ).[10] Sudah kodratnya manusia menghadapi masalah hidup. Secara alami, manusia dibekali insting untuk menghadapinya. Namun, manusia kadang mudah putus asa, mengambil jalan pintas untuk keluar dari masalah. Ada manusia yang terus berproses mendaki jalan untuk mengatasi masalah tetapi belum sampai puncak sudah berhenti bahkan berbalik arah. Bentuk putus asa mereka adalah bermalas-malasan setelah gagal usahanya, tidak bersemangat berusaha kembalai setelah gagal, tampak murung /tidak ada gairah untuk berusaha, dan mudah terpancing emosinya.

              Kelemahan kelima adalah paling banyak membantah ( Wakaanal insaanu aktsara syaein jadala ).[11] Allah menciptakan manusia dan mengutus sebagian dari mereka menjadi rasul untuk menyampaikan risalah atau agama-Nya.Risalah atau agama pada dasarnya adalah pedoman untuk menjadikan manusia sebagai manusia. Namun, mereka membantah risalah yang dibawa para Rasul SAW. Mereka yang membantah dibinasakan dan yang beriman diselamatkan. Ingat kisah umat Nabi Nuh, umat Nabi Luth, Nabi Sholeh, dan yang lainnya? Musibah yang menimpa sebagian wilayah bumi merupakan azab kecil sebagai peringatan bagi manusia yang membantah perintah Allah SWT.

3.      Penutup

              Akhirnya, perlu disadari manusia bahwa dirinya memiliki kelemahan yang digambarkan Allah SWT dalam Alquran seperti diciptakan dalam keadaan lemah, tergesa-gesa, sering melampaoi batas, berkeluh kesah, mudah putus asa, dan banyak membantah. Wallahu a’lam bishshawab.

[1] Q.S.Attiin: 4
[2] Q.S.Syams: 8
[3] Q.S.Annisa: 28
[4] Q.S.Annisa: 27 dan 29
[5] Q.S.Alisraa:11
[6] Q.S.Alisraa: 18
[7] Q.S.Alghafir:60
[8] H.R.Ahmad
[9] Q.S.Alma’arij: 19
[10] Q.S.Hud: 19
[11] Q.S.Alkahfi: 54

Kamis, 10 Oktober 2019

Menjaga Hati


MENJAGA HATI: Apa Urgensinya
Oleh : Abah Malikun


       1.     Pendahuluan
              Masih ingatkah kita akan syair lagu karangan AA Gyim? Salah satu baitnya berbunyi,
                “Jagalah hati
                  Jangan kaukotori
                  Jagalah hati
                  Lantera hidup ini.”
Syair tersebut mengajak kita menjaga hati, jangan sampai kotor karena hati memiliki fungsi sebagai lampu yang menerangi hidup kita. Jika kotor, hati tidak akan berfunsi secara maksimal sebagai lantera yang menerangi kehidupan yang kadang gelap tak berujung.

              Hati mempengaruhi kehidupan kita. Apakah hidup kita lurus dalam hidayah-Nya atau justru penuh dengan kegiatan memenuhi hawa nafsu dan mengejar hubbud dunya (cinta dunia)? Itu semua tergantung baik atau buruknya hati kita, bersih atau kotornya hati kita, seperti telah disabdakan oleh Rasulullah SAW (yang artinya), “Ingatlah di dalam jasad ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, maka baiklah jasad semuanya. Jika buruk, maka rusaklah jasad semuanya. Ingatlah, dia adalah hati.”

             Selanjutnya, mengapa hati bisa menjadi kotor? Bagaimana cara menjaga hiti agar tetap terjaga kebersihan atau kesuciannya? Tulisannya ini akan memerikan jawaban keduanya dengan membahas penyebab hati menjadi kotor dan cara menjaga kebersihannya.

Rabu, 10 April 2019

Menciptakan Pemilu Damai


MENCIPTAKAN  PEMILU DAMAI: 
Sebuah Keharusan
Oleh : Abah Malikun
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading Mranggen Demak)


1. Pendahuluan                                                                                       
               Sebagai negara demokratis, Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) setiap lima tahun untuk memilih anggota DPR, DPRD I, DPRD II, DPD, dan untuk tahun ini bersamaan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) masa bakti 2019-2024. Baik Pemilu maupun Pilpres merupakan pesta demokrasi yang di dalamnya terdapat semangat dan kegembiraan seluruh rakyat. Tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang tersisih, semuanya harus mau menerima hasil dengan gembira pula.

              Negara memberi hak kepada seluruh rakyat untuk dipilih (hak pilih pasif) dan memilih hak pilih aktif) sesuai dengan undang-undang atau ketentuan yang telah disepakati bersama baik oleh wakil rakyat (DPR) maupun lembaga yang berwenang (KPU). Hak untuk dipilh diberikan oleh negara kepada partai peserta pemilu dan siapa saja yang layak menurut ketentuan yang berlaku. Semuanya memiliki visi dan misi yang mulia untuk kejayaan negara dan bangsa ini. Oleh karena itu, kualitas mereka secara admistratif pasti sudah terjamin.

              Bagaimana halnya dengan kualitas pribadi? Untuk mengenali kualitasnya, perlu dilihat rekam jejak keterlibatan mereka dalam membangun bangsa dan negara bukan hanya mengobral janji atau bahkan menebar fitnah kepada lawan politiknya. Rekam jejak yang dimaksud adalah aksi dan pribadi mereka dalam kancah politik, sosial, agama dalam masyarakat.

Kamis, 13 September 2018

Hikmah Kurban



HIKMAH KURBAN

Oleh : Abah Malikun
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading)

  1.     Pendahuluan

            Kurban merupakan ibadah sunah yang memiliki nilai historis karena bersumber dari kisah ketaatan sorang ayah kepada Tuhannya ( Ayahanda Ibrahim a.s.) dan keshalihan anak terhadap orang tuannya ( ( Ananda Ismail a.s. ). Seorang ayah sudah semesatinya menunjukkan keteladanannya di hadapan anak-anaknya perihal ibadahnya kepada Allah SWT. Begitu pula anak, sudah pasti bertingkah laku yang mencerminkan kashalihan orang tuannya.

            Keridhaan Allah terhadap kedua hamba-Nya tersebut berbuah kurban yang sekarang menjadi syariat Rasulullah SAW bagi yang pada 10-13 Dzulhijah memiliki kelebihan rezeki dari kebutuhan pokok (makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan) seharga ternak (kambing/domba, sapi/kerbau, atau onta).[1]

             Daging kurban kemudian menjadi hak fakir dan miskin untuk dinikmati agar tidak terjadi kecemburuan social antara si kaya dan si miskin. Dengan demikian, kurban memiliki banyak hikmah baik bagi pelaku maupun masyarakat. Apa saja hikmah kurban tersebut? Pertanyaan mendasar tersebut perlu dijawab dengan deskripsi panjamg. Tulisan ini akan mendeskripsikan hikmah berkurban baik bagi pelaku maupun masyarakat.

  2.     Hikmah Kurban  

            Hikmah kurban dapat dilihat dari dua sisi yaitu masyarakat dan pelaku kurban itu sendiri. Bagi masyarakat, kurban merupakan pesta bersama tanpa membedakan status sosial dan ekonomi. Semua lapisan masyrakat sekitar tempat kurban berkumpul bau-membau untuk aktif berproses dalam pengelolaan dari penyembelihan, pengirisan daging, pembersihan, sampai kepada distribusinya.

             Ada pancaran kegembiraan di sana lebih-lebih anak-anak. Itulah sebabnya syariat penyembelihan tersebut berlangsung empat hari (10-13 Dzulhijah). Begitu pula, keharaman berpuasa pada hari-hari tersebut menunjukkan begitu besar agama Islam menaruh perhatian terhadap masalah penyatuan antarumat Islam dan antarumat manusia, di samping ada syariat zakat yang memiliki fungsi sama yaitu nilai kepedulian sosial. Kata ‘peduli’ berarti mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan.[2] Jadi, berkurban dengan nilai kepedulian sosial berarti berkurban dengan memperhatikan hakikat kurban sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

               Sedangkan hikmah kurban bagi pelakunya yang pertama adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dari Allah seperti dalam firman-Nya, “INNAA A’THAINAAKAL KAUTSAR FASHALLI LIRABBIKA WANHAR” (= Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka shalatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah )[3]. Nikmat Allah SWT yang telah kita rasakan sangat banyak hingga kita tidak dapat dihitung dengan nalar yang normal. Nikmat yamg paling besar adalah nikmat sehat dan nikmat iman serta Islam. Namun, masih sedikit yang bisa disyukuri oleh manusia. Kurban inilah menjadi wujud syukur manusia.

              Kedua, dalam diri pelaku akan tertanam kesucian dalam jiwanya sehingga dekat dengan Allah.[4] Fungsi sedekah pada umumnya adalah untuk menyucikan jiwa dan harta pelakunya.[5] Dengan jiwa yang suci, pelaku kurban mudah meraih derajat yang tinggi di sisi Allah Yang Maha Suci karena kesucian akan menjadikan jiwa takwa. Derajat tertinggi di sisi Allah hanya milik jiwa takwa.

              Ketiga, dalam jiwa pelaku akan terbina karakter patriotisme yaitu rela berkurban untuk orang lain.[6] Jiwa patriotik ini terbentuk karena kesadaran bahwa salah satu tanda berhasilnya akhir perjuangan adalah kepasrahan kepada Allah yang dilakukan sejak awal berkurban.[7]  Jiwa patriotik dalam hal ini adalah jihad fiisabilillah.

              Keempat, kelak pada hari kiamat, binatang kurban benar-benar akan datang dengan bulu-bulunya dan tanduk-tanduknya dan kuku-kukunya serta siap mengantarkan pelakunya.[8]  Dengan kendaraan yang disediakan Allah, pelaku kurban akan merasa aman dan nyaman walaupun melintasi api neraka menuju tempat idaman setiap insan yaitu surga yang penuh nikmat.

             Kelima, darahnya yang menetes ke bumi menjadi ampunan bagi dosa pelaku kurban yang telah lalu.Di samping itu, darahnya juga akan memberatkan kebajikan pada hari kiamat setelah seluruh amal dihisab di hadapan Allah.[9] Dengan demikian, pelaku kurban akan mendapatkan kesempurnaan kesudahan dan kekayaan ukhrawi yang luar biasa.

              Hikmah kurban bagi masyarakat adalah adanya nilai kepedulian sosial seperti yang telah penulis uraikan di atas. Allah memberi keluasan bagi fakir miskin untuk bersenang-senang menikmati daging kurban selama empat hari. Bagi mereka, kurban bisa meningkatkan mutu kesejahteraan dan kesehatan nya. Di samping itu, kurban juga mampu mengurangi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.[10]Dengan meningkatnya tarah hidup masyarakat dan terkuranginya kesenjangan sosial, keharmonisan dan keadilan akan mudah tercipta sehingga peranan Islam sebagi agama rahmat benar-benar terwujud.

  3.     Penutup

              Akhirnya, kurban memiliki hikmah yang banyak, baik bagi pelaku maupun masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.



[1] Q.S.Alkautsar:1-3
[2] Tim Redaksi, Op.Cit. hlm. 397                                             
[3] Q.S. Al Kautsar: 1-2
[4] Prof.Dr.Hj.Huzaimah Tahido Yanggo,M.A., Masail Fiqhiyyah : Kajian Hukum Islam Kontemporer ( Bandung: Angkasa, 2005) hlm 26-27
[5] Rasulullah SAW telah mengajarkan doa menerima sedekah “Semoga Allah memberi pahala sedekahmu dan menjadikan sebagai penyuci jiwa dan hartamu seta memberkahi apapun yang Anda sisakan di rumah”
[6] Prof.Dr.Hj.Huzaimah tahido Yanggo,M.A. Op.Cit. hlm.26-27
[7] Ibnu Ajhaillah As Sakandary,Al Hikam, ( Jakarta: Citra Risalah,2012),hlm.111
[8] Muhammad Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah 5,( Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2010),hlm 272
[9] Idris Ahmad,S.H., Fiqh Syafii ( Jakarta: Karya Indah,1984),hlm.574
[10] Prof.Dr.Hj.Huzaimah Tahido Prof.Dr.Hj.Huzaimah Tahido Yanggo,Op.Cit.hlm.26-27

Rabu, 25 Juli 2018

Aspek Batiniah Ibadah Haji


ASPEK BATINIAH IBADAH HAJI

Oleh : Drs. H. Malikun, M.Pd.I.
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading)




      1.      Pendahuluan

              Ibadah haji adalah ibadah wajib bagi muslim yang mampu melaksanakan perjalanan sampai tanah suci ( Makkah dan Madinah ) sekali dalam seumur hidup. Allah SWT telah berfirman, “WALILLAHI ‘ALANNAASI HIJJULBAITI MANISTATHA’A ILAIHI SABIILLAN WAMAN KAFARA FAINNALLAHA GHANIYYUN ‘ANIL’ALAMIIN” (=Dan kewajiban dari Allah atas manusia yaitu haji bagi siapa saja yang mampu atas perjalanan sampai Ka’bah. Dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam).[1]

              Kewajiban haji atas muslim disebabkan karena ibadah tersebut merupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa pada bulan Ramadhan. Rasulullah SAW telah bersabda,
“BUNIYAL ISLAMU ‘ALAA KHAMSIN SYAHADATIN LAAILAAHAILLALLAH WAANNA             MUHAMMADAN RASULULLAH WAIQAAMISHSHALLATI WAITAAIZZZAKAATI WASHAUMI RAMADHANA WAHIJJIL BAITI MANISTATHA’A ILAIHI SABIILAN” (=Islam itu dibangun dengan lima pilar yaitu kesaksian tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa pada Ramadhan, serta haji di Ka’bah bagi siapa saja yang mampu melakukan perjalanan sampai Ka’bah)[2]

            Ibadah yang merupakan pilar atau rukun Islam tersebut ada yang hanya ucapan (syahadat), ucapan dan perbuatan (shalat), harta (zakat), perbuatan saja (puasa), serta ucapan, perbuatan dan harta (haji). Dengan demikian, haji menggabungkan ucapan, perbuatan, dan harta. Kesemuanya itu bersifat lahiriah. Justru yang paling penting adalah aspek batiniah yaitu menggerakkan hati dalam setiap ibadah.

             Apa  aspek batiniah haji? Bagaimana menjaganya? Kajian singkat berikut berusaha menjawab dua pertanyaan tersebut. Dalam kajian tesebut, penulis deskripsikan aspek batiniah haji dan cara menjaganya.

Kamis, 03 Mei 2018

Mempersiapkan diri untuk bulan yang suci



MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK BULAN YANG SUCI

Oleh : Abah Malikun
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading)



     1.      Pendahuluan

             Waktu terus berlalu; dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga tidak terasa Ramadhan (=bulan suci) hampir tiba kembali. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW terus kita ucapkan bahkan menjadi puji-pujian di masjid-masjid atau mushala-mushala, Allahumma barik lanaa fii rajaba wasya’bana wabalighna ramadhana   (=Ya Allah berkahi kami pada Rajab dan Sya’ban serta antarkan kami menikmati keindahan Ramadhan yang suci). Dengan doa tersebut, kita senantiasa diingatkan tentang kesiapan menikmati kesucian Ramadhan.

             Sya’ban merupakan jembatan yang menghubungkan bulan Haram/Rajab dan bulan Suci/Ramadhan. Para ulama menyebul Sya,ban sebagai syahrun litathhirul qalbi (=bulan untuk membersihkan hati) untuk menyongsong bulan suci Ramadhan. Bersih-bersih dalam kenteks tersebut adalah bertobat dari semua dosa agar dalam bulan suci tersebut kita dapat mmerasakan kenikmatannya. Di samping itu, hati harus ditanamkan rasa senang akan datangnya bulan suci Ramadhan karena rasa senang tersebut diberi pahala berupa terhalangnya jasad dari api neraka pada hari kiamat.[1]

             Bagaimana pun keadaan kita, apakah kita siap atau tidak siap, maka bulan Ramadhan pastilah akan datang, dan tentu beruntunglah orang yang sudah mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan, karena dengan persiapan tentu saja hasilnya akan lebih baik. Berbicara tentang persiapan, apa yang mesti kita persiapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan? Berikut ini, penulis berikan beberapa hal yang dapat kita jadikan referensi.

Minggu, 08 April 2018

Rebo Wekasan


REBO WEKASAN: Apa dan Bagaimana ?
Oleh : Drs. H. Malikun, M.Pd.I.
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar)

      1.      Pendahuluan
              Ada sebuah tradisi di masyarakat yang mengkhususkan untuk berdoa dan melaksanakan ritual menolak balak pada Rabu terakhir Safar atau yang lebih dikenal dengan istilah Rebo Wekasan. Tradisi tersebut bersentuhan dengan Islam karena adanya kegiatan yang bernuansa ibadah seperti shalat sunah, zikir, sedekah, dan doa. Namun, banyak yang mempertentangkan tradisi tersebut karena banyak yang menilai sebagai peninggalan zaman jahiliah.
              Tradisi Rebo Wekasan banyak dilaksanakan di masjid-masjid atau mushala untuk memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari bencana. Banyak yang beranggapan bahwa pada hari tersebut Allah menurunkan 320.000 bencana setiap tahun. Oleh karena itu, mereka melakukan ritual bernilai ibadah agar dijauhkan dari bencana tersebut.
              Tulisan ini sekedar memperjelas apa yang dimaksud Rebo Wekasan? Bagaimana menyikapinya agar tidak terjatuh dalam perbuatan syirik? Dengan demikian, tema yang penulis jelaskan adalah tentang Rebo Wekasan dan pengelolaan Rebo Wekasan.

Kamis, 05 April 2018

Membaca Kepemimpinan dalam Shalat Berjamaah


MEMBACA KEPEMIMPINAN DALAM SHALAT BERJAMAAH


     1.      Pendahuluan

              Shalat berjamaah adalah bentuk organisasi sesaat yang menerapkan disiplin yang sangat ketat karena semua unsur yang ada di dalamnya harus memenuhi syarat tertentu. Imam sebagai pemimpin harus memiliki kriteria syar’iyah dan sufiyah. Begitu pula makmum disyaratkan tertentu agar tercipta jamaah yang memiliki kekuatan dan keutuhan serta keridhaan dari Allah SWT.

              Kepemimpinan dalam shalat berjamaah merupakan fenomina menarik yang dapat digunakan sebagai objek kajian sekaligus dapat diaplikasikan dalam kepemimpinan di bidang lain baik dalam lingkup yang kecil maupun besar bahkan dalam kepemimpinan dalam suatu negara. Belum banyak yang tertarik mengaplikasikan kepemimpinan tersebut meskipun secara tidak tersistem sudah melaksanakannya.

             Dari uraian tersebut, penulis merasa tertantang untuk sekedar membaca fenomena kepemimpinan untuk selanjutnya berusaha menerapkannya. Siapa pemimpin dalam shalat berjamaah? Bagaimana pelaksanaan kepemimpinan dalam shalat berjamaah? Dua pertanyaan tersebut penulis jadikan sebagai dasar untuk membahas imam dan syarat-syaratnya serta pola kepemimpinan dalam shalat berjamaah.

Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

    I mam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kit...