Dalam diri manusia ada yang namanya nafsu. istilah nafsu
yang kita kenal merupakan bahasa arab. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, nafsu adalah jiwa. Tidak semua nafsu bernilai buruk, ada nafsu
yang justru baik dan dicintai Allah. Al Quran menyebutkan adanya beberapa jenis
nafsu. Setidaknya tiga ayat ini membahas tentang Nafsu :
1.
QS. Yusuf ayat 53, tentang
Nafsu Amarah
2.
QS. Al Qiyamah ayat 2, tentang
Nafsu Lawamah
3. QS. Al-Fajr ayat 27 - 30, tentang Nafsu Mutmainnah
Akan lebih mudah dipahami, jika kita menyebutnya: jiwa
amarah, jiwa lawamah, dan jiwa mutmainnah.
1. Nafsu Amarah, Jiwa yang Tersesat
وَمَآ
اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan aku tidak (menyatakan)
diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong
kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf : 53)
Nafsu Amarah selalu mengajak pada
hal-hal negatif seperti : marah, iri, dengki, tamak, serakah, culas, licik,
rakus, egois, boros, dan sifat sifat yang cenderung desktruktif merusak hal hal
di luar dirinya. Nafsu amarah yang dominan menguasai diri seseorang, akan
merusak organ tubuh manusia itu sendiri, juga merusakan lingkungan dan tatanan
kehidupan.
Sederhananya, Nafsu Amarah, adalah Jiwa yang Tersesat, meluap-luap liar di
dunia yang singkat dan fatamorgana.
2.
Nafsu Lawamah, Jiwa yang
Terbelenggu
وَلَآ
اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
"Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya
sendiri)," (QS. Al-Qiyamah:2).
Nafsu lawamah, cenderung merusak dirinya sendiri (destruktif ke dalam). Mereka
adalah mental penyesalan, minder, kekecewaan, putus asa, kecemasan,
kekhawatiran, ketakutan, keraguan, kesedihan, meratapi masa lalu, menyalahkan
keadaan, menyalahkan orang lain, dan menyalahkan diri sendiri.
Sederhananya, Nafsu Lawamah adalah Jiwa yang Terbelenggu, terkurung jauh di
dalam jurang kegelapan dan kelemahan tubuh manusia. Mereka banyak melewatkan
hal-hal indah dan bermakna di sekeliling mereka. Jiwa yang seperti ini tidak
akan mengenal arti sabar dan syukur. Mereka tuli, buta, bisu, dan mati rasa
terhadap realita, karunia dari Allah, dan lupa terhadap Qodho Qodar dari Allah.
3.
Nafsu Mutmainnah, Jiwa
yang Sempurna
يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku.
Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).
Ini adalah Nafsu yang Diridhai Allah. Nafsu Mutmainnah bukanlah jiwa
yang tersesat maupun jiwa yang terbelenggu. Nafsu Mutmainnah telah menemukan
kesadaran, keberadaan, dan tujuan hidupnya sendiri. Nafsu Mutmainnah, telah
ikhlas menerima bagian karunia dari Allah Swt., senang dengan peran yang
diberikan, bersabar dengan proses yang berjalan, dan bersyukur dengan hasil
yang telah diterima. Nafsu Mutmainnah, adalah Jiwa yang Tenang. Mereka tidak
lagi membedakan kebahagiaan dan penderitaan, tidak membedakan masalah dan kesuksesan.
Menurut mereka, segala hal yang terjadi adalah cara Allah mendekati hambaNya,
baik dengan duka maupun air mata. Jiwa yang Tenang telah ridha pada
Allah, dan Allah ridha pada mereka. Menariknya, manusia adalah makhluk sempurna
yang diciptakan Allah dan dilengkapi dengan perangkat tubuh fisik, akal
pikiran, dan hati.
Selain
itu, islam sudah mengajarkan bahwa di dalam tubuh ada segumpal darah, jika dia
baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Bagian itu adalah hati, tempat dimensi
mental. Yuk, jaga kesehatan kita secara menyeluruh dari dimensi lahir dan
dimensi batin.
Sumber: https://jabar.nu.or.id/ngalogat/tiga-jenis-nafsu-manusia-salah-satunya-diridhai-allah-swt-VQVUF

Tidak ada komentar:
Posting Komentar