Majlis dzikir dan majlis ilmu merupakan taman-taman syurga
yang ada di dunia. Demikian mulianya tempat itu, sehingga diumpamakan sebagai
taman-taman syurga yang sangat indah. Rasulullah SAW berpesan pada para sahabat
dan umatnya:
إِذَا
مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ
قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Apabila kamu melewati taman-taman syurga, maka singgahlah dengan rasa cinta. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman syurga itu? Nabi menjawab: Halaqah-halaqah atau kelompok majlis zikir. (HR. Tirmdizi, 3510).
Majlis zikir biasanya dihadiri beberapa orang, dipimpin oleh ustadz atau guru dengan membaca kalimat yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nas, al-Fatihah, awal surat al-Baqarah, ayat kursi, tiga ayat terakhir dari al-Baqarah dan sebagainya. Selanjutnya dibacakan zikir seperti tasbih, shalawat dan tahlil. Termasuk dalam majlis zikir adalah membaca istighfar dan bacaan-bacaan lain yang disyariatkan. Nabi bersabda:
لَا
يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ
المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ،
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَن عِنْدَهُ
"Tidak duduk sekelompok
orang yang melaksanakan zikir kepada Allah azza wa jalla, kecuali para malaikat
mengelilingi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketenangan turun kepada
mereka dan Allah s.w.t. menyebut nama mereka di hadapan para malaikat yang ada
pada sisi-Nya. (HR. Muslim, 2700).
Segala kegiatan yang bersifat ilmiah seperti belajar di
sekolah, madrasah, masjid-masjid, pesantren, dan sebagainya akan mengantarkan
umat manusia menjadi kaum cendikiawan muslim. Mereka selalu memikirkan dan
mengadakan penelitian terhadap segala apa yang ada di alam semesta dengan
segala isinya. Mereka meneliti berbagai kejadian dan peristiwa yang sangat
menakjubkan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dari penelitian itu,
lahirlah berbagai macam ilmu, baik ilmu keagamaan maupun sains dan teknologi.
Para cendikiawan muslim dan ulama dikelompokkan sebagai ulul albab, keadaan
mereka disebutkan dalam al-Qur’an:
إِنَّ
فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ
لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا
وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ
ٱلنَّارِ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS.
Ali Imran, 03:190-191).
Perintah untuk
melaksanakan zikir banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an, antara lain:
وَٱذۡكُر
رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ
بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu
pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS.
Al-A’raf, 07:205).
Dalam al-Sunnah banyak sekali disebutkan mengenai perintah
berzikir, belajar, mencari ilmu, dan berdiskusi, antara lain:
مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ
اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ،
وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ
فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah berkumpul sekelompok orang dalam satu rumah
dari rumah-rumah Allah. Mereka membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan saling
belajar di antara mereka (berdiskusi) kecuali mereka dikaruniai ketenangan,
dinaungi oleh rahmat Allah. Para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah s.w.t.
menyebut mereka di kalangan para malaikat. (HR. Muslim, 4867).
Majlis taklim atau mejelis ilmu memiliki keutamaan yang
sangat tinggi, sehingga mereka yang aktif di dalamnya digambarkan sebagai
seorang mujahid fi sabilillah. Nabi bersabda:
مَنْ
جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ
يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَمَنْ جَاءَ
لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
"Barang siapa yang mendatangi masjidku ini, ia tidak
mendatanginya kecuali untuk kebaikan, untuk belajar atau mengajar, maka
kedudukannya seperti pejuang di jalan Allah. Dan barang siapa yang datang
selain dari itu, maka menempati orang yang suka melihat-lihat barang yang lain
dari itu. (HR. Ibnu Majah, 204). Rasulullah SAW berpesan kepada Abi Zar:
يَا
أَبَا ذَرٍّ لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ وَلَأَنْ تَغْدُوَ
فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنْ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ لَكَ
مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ
"Wahai Abi Zar sesungguhnya engkau berangkat pagi hari
untuk mempelajari satu ayat dari kitabullah, hal itu lebih baik bagimu dari
melaksanakan shalat sunnah seratus rakaat. Dan apabila engkau berangkat pada
pagi hari untuk mempelajari satu bab ilmu, baik diamalkan atau tidak (belum
diamalkan), maka hal itu lebih baik bagimu daripada melaksanakan shalat sunnah
seribu rakaat. (HR. Ibnu Majah, 219).
Sumber: https://jabar.nu.or.id/taushiyah/taman-taman-surga-NE4Hx

Tidak ada komentar:
Posting Komentar