Sabda Rasulullah Saw. yang dijabarkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Albantani;
اَرْبَعَةٌ
جَوَاهِرٌ فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُها اربَعَةُ اشْياءَ، امَا اجَواهِرُ
العَقْلُ، والدِينُ، والحَياءُ، والعَمَلُ الصالِحُ، فالغَضَبُ يُزِيْلُ العَقْل،
والحَسَدُ يُزِيْلُ ادِينَ، والطَمَعُ يُزِيْلُ الحَياءََ، والغِيْبَةُ يُزِيْلُ
العَمَلَ الصالِح
“Empat macam mutiara yang ada pada diri manusia dapat hilang dengan empat perkara yang lain. Empat mutiara itu ialah: akal, agama, malu, dan amal saleh. Kemarahan dapat menghilangkan akal, hasud (dengki) dapat menghilangkan agama, tamak dapat menghilangkan malu, mengumpat (ghibah) dapat menghilangkan amal saleh”.
Manusia merupakan makhluk yang sempurna karena ia mempunyai
jasad (fisik) yang indah dan dilengkapi dengan ruh atau jiwa,
sehingga dengan itu manusia dikaruniai Allah sebuah keutamaan yang membedakan
kualitas dirinya dengan makhluk lain. Berdasarkan hadits di atas Allah SWT juga
membekali manusia dengan 4 mutiara yang perlu dijaga karena tantangannya
tidaklah ringan.
Mutiara pertama yaitu akal. Dalam Islam akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak
dipakai bukan hanya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan semata,
tetapi juga dalam perkembangan ajaran-ajaran keagamaan Islam. Dalam
Al-Qur’an banyak kita jumpai ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir
dan menggunakan akal, diantaranya yaitu dalam (Q.S. al-Baqarah : 44)
أَتَأْمُرُونَ
ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Namun akal akan rusak dengan marah, sebab marah dapat
menghilangkan akal sehat. Sebagai contoh: perceraian,
keretakan persahabatan dan lainnya, bahkan pembunuhan bisa terjadi karena
bara api amarah. Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا
قَالَ لَا تَغْضَبْ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa
seorang pria berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Wahai
Rasulullah, berikan saya wasiat.’ Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda: ‘Jangan engkau marah, jangan engkau marah.’” (HR. Bukhari)
Dalam Al-Qur’an Allah menjanjikan surga bagi yang menahan
amarah :
الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Mutiara kedua yaitu Agama. Agama adalah sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata
kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia, serta manusia
dengan lingkungannya.
مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِه خيراً يُفَقِّهْهُ في الِدينِ
“Barangsiapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, maka ia
dipahamkan-Nya tentang Agama.” (HR Bukhari)”
Perkara yang akan menghilangkan mutiara agama adalah hasud.
Hasud (dengki) adalah sikap batin yang
tidak senang kepada orang lain yang mendapat kenikmatan, sekaligus mengharapkan
hilangnya kenikmatan itu pada orang lain. Penyakit ini merupakan penyakit batin
yang susah mengobatinya dan dimiliki banyak orang. Bahkan hasud merupakan
penyakit tertua seumur dengan sejak adanya manusia pertama, Nabi Adam As, yaitu
Qabil putera Adam hasud (dengki) terhadap saudaranya Habil.
Mengenai dengki ini, Allah mengingatkan dalam Firmannya :
...وَلَا
تَتَمَنَّوۡا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعۡضَكُمۡ عَلٰى بَعۡضٍ ؕ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan
Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…( QS. An Nisa :
32 )
Rasulullah SAW bersabda tentang bahaya hasud :
إِيَّاكُمْ
وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ
الْحَطَبَ
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Jauhilah hasad
(dengki), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.”
(HR Abu Dawud).
Mutiara ketiga yaitu rasa malu. Rasa malu
bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorong berwatak ingin selalu
berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki
watak malu adalah orang yang cepat menyingkir dari segala bentuk keburukan
bahkan kejahatan. Dengan malu seseorang mempunyai harga diri. Tanpa sifat malu
seseorang akan kehilangan harga diri, sabda Rasul : “Malu itu tidak datang,
kecuali dengan kebaikan”, (HR. Muslim). Rasa malu akan sirna dengan thama’ atau
tamak. Tamak adalah sikap batin yang menginginkan agar kenikmatan itu
didapatkan sebanyak-banyaknya meskipun dengan cara yang tidak benar. Apabila
tamak mendarah daging dalam diri manusia, maka manusia tidak akan pernah merasa
puas atas apa yang sudah ia miliki.
Mutiara keempat yaitu amal saleh. Amal
saleh ialah perbuatan baik yang membawa kemaslahatan bagi sesama, yang
dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan contoh dari Rasul-Nya. Allah
menjanjikan ampunan dan pahala bagi yang beramal saleh, sebagaimana Firmanya:
وَعَدَ
ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ۙ لَهُم مَّغْفِرَةٌ
وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
”Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS
al-Maidah [5]: 9).
Perkara yang merusak amal saleh yaitu ghibah. Ghibah adalah menceritakan keburukan seseorang kepada orang lain,
sedangkan jika benar terjadi maka itulah ghibah, namun jika tidak benar itu
fitnah. Allah mengancam terhadap orang yang menggunjing
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ
إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّععْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ
أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." (Q.S. Al Hujurot : 12)
Mudah-mudahan dapat kita dapat mengambil hikmah dan bisa
menjaga empat mutiara yang berharga pada diri yaitu: akal, agama, rasa malu,
dan amal saleh. Aamiin ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar