Nasihat merupakan pelajaran, peringatan, anjuran, teguran yang disampaikan untuk mencapai arah kebaikan. Memberikan nasihat keagamaan kepada sesama muslim sangat dianjurkan oleh agama, karena dikatakan bahwa hidup dan matinya agama itu terletak pada penyampaian akan nilai-nilai agamanya, yaitu nasihat agama. Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjelaskan di dalam kitabnya Minhajul Muslim mengenai sejumlah hadis yang memiliki kaitan dengan anjuran bagi sesama muslim untuk saling menasihati, misalnya yang terdapat di dalam Hadits : “Agama ini adalah nasihat, ditanyakan (kepada Rasulullah SAW) : Bagi siapa wahai Rasul ? Beliau menjawab: bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum Muslimin dan segenap kaum Muslimin”.
Dalam kehidupan beragama, nasihat memiliki kedudukan yang
amat penting karena di dalam nasihat memiliki maksud untuk menjauhkan kebuntuan
kaum muslimin serta agar tidak keluar dari batasan-batasan syariat Islam.
Mereka yang enggan menerima nasihat-nasihat yang diberikan akan semakin jauh
dari arahan dan bimbingan. Salah satu ciri orang yang tidak mengalami kerugian
dalam kehidupan yaitu mereka yang saling memberikan nasihat sebagaimana yang di
firman Allah SWT di dalam QS. Al-Ashr ayat 1-3 :
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ (٣)
“(1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian,
(3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat menasihati
supaya menetapi kesabaran.”
Dalam kitab Nashoihul Ibad karya Syekh
Nawawi Banten, di jelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW di datangi oleh malaikat
Jibril As, kemudian malaikat Jibril As memberikan nasihat kepada
Rasulullah SAW, nasihat yang diperuntukkan pula untuk umat Rasulullah,
nasihat malaikat Jibril As yang disampaikan kepada Rasulullah SAW ini dapat
dijadikan pedoman bagi umat Beliau karena pesan tersirat di dalamnya bisa
menjadi nasihat sepanjang masa di mana apa yang disampaikan oleh malaikat
Jibril As pasti dialami oleh umat Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
أتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
“Malaikat Jibril mendatangiku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu,
karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena
sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena
sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” (H.R. Ath Thabarani, Abu
Nu’aim dan Al-Hakim).
Dari Hadits di atas terdapat 3 nasihat yang disampaikan oleh
malaikat Jibril As:
Nasihat Pertama
عِشْ
مَا شِــئْتَ فَإِنَّـكَ مَـيِّتٌ
“Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati.”
Sebaik-baik nasihat ialah nasihat kematian, malaikat Jibril
As pun menyampaikan nasihat kepada Rasulullah mengenai kematian. Dari nasihat
yang disampaikan malaikat Jibril di atas dapat kita ketahui bahwa
kematian adalah suatu hal yang pasti dialami oleh semua makhluk yang bernyawa
dan sangat tidak mungkin makhluk bisa terhindar dari kematian. Allah SWT
berfirman di dalam QS Al Jumuah Ayat 62, artinya :
“Katakanlah: sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan
kepada-Nya, yang mengetahui yang Gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Jalan hidup manusia di dunia ini merupakan suatu pilihan,
seseorang ingin menjadi manusia yang baik atau buruk itu pilihan, seseorang
ingin menjadi manusia yang bertakwa atau pendosa itu juga pilihan, seseorang
ingin menjadi manusia yang mulia atau hina itu juga merupakan pilihan.
Bagaimanapun dan apapun jalan hidup yang di pilih seseorang, kematian adalah
sebuah kepastian yang akan dialami oleh semua makhluk yang diberi nyawa oleh
Allah SWT, firman Allah SWT di dalam Al- Quran surat Ali-Imran Ayat 185,
yang artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati”.
Tentunya kematian bukanlah akhir dari kehidupan, justru
kematian adalah sebuah awal, awal dari kita menjalani kehidupan baru kehidupan
setelah kematian yang tentu kehidupan di akhirat sangat berbeda dari kehidupan
dunia. Kematian seolah menjadi pintu awal untuk menuju kepada kehidupan abadi
yaitu kehidupan akhirat. Sehingga dalam mengarungi kehidupan didunia, kita
tidak boleh terlena dengan godaan dunia.
Nasihat Kedua
وَأَحْبِبْ
مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ
“Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau
akan berpisah dengannya.”
Cinta adalah sebuah anugerah dan pemberian sang Ilahi Robbi,
maka cinta sifatnya agung dan suci, cinta manusia yang sejati adalah menerima
segala kekurangan karena sejatinya manusia adalah makhluk yang memiliki
kekurangan, berjalan di muka bumi ini dengan kesederhanaan, dan siap untuk
berkorban tanpa pamrih. Seseorang yang benar-benar memiliki cinta kepada orang
lain, maka ia akan selalu menjaganya sebaik-baiknya sebagaimana yang disabdakan
oleh Rasulullah SAW “Cintailah Allah SWT, karena Allah mencurahkan
nikmat-nikmat Nya kepadamu, dan cintailah aku karena mencintai Allah SWT, dan
cintailah keluarga rumahku karena mencintai Aku (HR. Turmudzi).
Cinta merupakan cahaya yang mampu mengarungi samudera yang
gelap menjadi deburan sinar yang menyinari hati-hati manusia yang beku, deku,
kaku dan kelu, dan cahaya cinta mampu merobohkan sifat angkuhan serta sombong
menjadi sebuah ketenangan dan kesejukan. Cinta itu fitrah manusia yang
diberikan oleh Allah SWT, cinta tak kenal pintar, bodoh, putih, hitam, manusia
memiliki cinta yang diberikan oleh Allah SWT. Allah menjustifikasi bahwasanya
cinta merupakan bagian dari primordial-Nya.
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk sosial yakni
makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Allah SWT memberika hati kepada
manusia untuk saling berkasih sayang baik kepada sesama manusia maupun kepada
makhluk Allah lainnya seperti mencintai hewan dan tumbuhan. Namun sebesar
apa pun cintamu kepada makhluk, ingatlah kamu akan tetap berpisah dengan
makhluk yang engkau cintai tersebut., cinta yang abadi hanyalah cinta kepada
Allah SWT.
Dalam perihal mencintai Syekh Abdul Qodir Al-Jailani
menyampaikan bahwa kita tidak diperbolehkan mencintai maupun membenci
seseorang, kecuali kita telah menyelaraskan segala amal perbuatan orang
tersebut dengan Al-Quran dan juga Al-Hadits, sehingga tidak ada istilah
mencintai maupun membenci karena semata-mata dorongan hawa nafsu, melainkan
mencintai atau membenci karena Allah SWT.
Nasihat Ketiga
وَاعْمَلْ
مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِه
“Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan
diberi balasan karenanya.”
Perlu kita ketahui bahwa sekecil apa pun kebaikan yang
dilakukan, Allah SWT akan membalasnya, begitu pun dengan keburukan sekecil
apapun keburukan yang dilakukan, Allah pun mengetahuinya, karena Allah adalah
zat yang maha mengetahui atas apa yang dilakukan oleh makhluknya. Kebaikan
ataupun keburukan amal yang kita lakukan, semua akan dipertanggung jawabkan
kepada Allah SWT, Allah akan membalas perbuatan makhluknya baik secara langsung
yakni didunia ataupun tidak langsung yakni di akhirat nanti. Oleh karena itu
perlu ditanamkan dalam hati bahwasanya tidak ada suatu perbuatan pun yang
sia-sia dikerjakan di muka bumi ini. Semua amal baik maupun buruk akan
ada perhitungan atas apa yang kita lakukan. Demikian seyogyanya kita
merefleksikan diri ketika kita hendak melakukan suatu hal.
Allah SWT berfirman di dalam QS. Az-Zalzalah Ayat 7-8
yang artinya :
“(7) Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarroh,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) dan barang siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarroh, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.”
.............................................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar