Selasa, 07 Agustus 2018

Keutamaan Ilmu



KEUTAMAAN ILMU

تَعَــــــلَّمْ فَاِنَّ اْلعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ ۞ وَفَضْلٌ وَعِنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ

NGAJIHO KERONO ILMU MAHESI ING AHLINE

LAN NGUNGGULKE LAN DADI TONDO TINGKAH PINUJI

Belajarlah, ilmu adalah perhisan indah bagi pemiliknya, dan keutamaan baginya serta tanda setiap hal yang terpuji

Senin, 06 Agustus 2018

Mencari Teman



MENCARI TEMAN


عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ

JO TAKON SONGKO WONG SIJI TAKONO KANCANE

KERONO SAKTEMENE KANCA MANUT KANG NGANCANI

فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَــــــــــــدِيْ

YEN ONO KONCO OLO LAKUNE NDANG DOHANO

YEN ONO KONCO BAGUS ENGGAL NDANG KANCANANO

Janganlah engkau bertanya tentang kepribadian orang lain, lihat saja temannya (pergaulannya), karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya, bila temannya (pergaulannya) tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya (pergaulannya) baik maka temanilah dia, dengan itu kamu akan mendapatkan petunjuk.

Syarat-syarat Mencari Ilmu



SYARAT-SYARAT MENCARI ILMU


اَلاَ لاَتَنَــــالُ الْعِـــلْمَ اِلاَّ بِســــــِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ELINGO DAK HASIL ILMU ANGING NEM PERKORO

BAKAL TAK CERITAAKE KUMPULE KANTI PERTELO

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ ۞ وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

RUPANE LIMPAT LOBO SOBAR ONO SANGUNE

LAN PIWULANGE GURU LAN SING SUWE MANGSANE

Ingatlah..... kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan 6 [enam] syarat, yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz dan lama waktunya.

Rabu, 25 Juli 2018

Aspek Batiniah Ibadah Haji


ASPEK BATINIAH IBADAH HAJI

Oleh : Drs. H. Malikun, M.Pd.I.
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading)




      1.      Pendahuluan

              Ibadah haji adalah ibadah wajib bagi muslim yang mampu melaksanakan perjalanan sampai tanah suci ( Makkah dan Madinah ) sekali dalam seumur hidup. Allah SWT telah berfirman, “WALILLAHI ‘ALANNAASI HIJJULBAITI MANISTATHA’A ILAIHI SABIILLAN WAMAN KAFARA FAINNALLAHA GHANIYYUN ‘ANIL’ALAMIIN” (=Dan kewajiban dari Allah atas manusia yaitu haji bagi siapa saja yang mampu atas perjalanan sampai Ka’bah. Dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam).[1]

              Kewajiban haji atas muslim disebabkan karena ibadah tersebut merupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa pada bulan Ramadhan. Rasulullah SAW telah bersabda,
“BUNIYAL ISLAMU ‘ALAA KHAMSIN SYAHADATIN LAAILAAHAILLALLAH WAANNA             MUHAMMADAN RASULULLAH WAIQAAMISHSHALLATI WAITAAIZZZAKAATI WASHAUMI RAMADHANA WAHIJJIL BAITI MANISTATHA’A ILAIHI SABIILAN” (=Islam itu dibangun dengan lima pilar yaitu kesaksian tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa pada Ramadhan, serta haji di Ka’bah bagi siapa saja yang mampu melakukan perjalanan sampai Ka’bah)[2]

            Ibadah yang merupakan pilar atau rukun Islam tersebut ada yang hanya ucapan (syahadat), ucapan dan perbuatan (shalat), harta (zakat), perbuatan saja (puasa), serta ucapan, perbuatan dan harta (haji). Dengan demikian, haji menggabungkan ucapan, perbuatan, dan harta. Kesemuanya itu bersifat lahiriah. Justru yang paling penting adalah aspek batiniah yaitu menggerakkan hati dalam setiap ibadah.

             Apa  aspek batiniah haji? Bagaimana menjaganya? Kajian singkat berikut berusaha menjawab dua pertanyaan tersebut. Dalam kajian tesebut, penulis deskripsikan aspek batiniah haji dan cara menjaganya.

Selasa, 22 Mei 2018

Isro' Mi'roj Nabi Muhammad S.A.W.



Pengertian Isra’ Mi’raj
Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis , berdasarkan firman Allah :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)
Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.[1]
Kisah Isra’ Mi’raj
Secara umum, kisah yang menakjubkan ini  disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Minggu, 06 Mei 2018

Haflah Akhirussanah

HAFLAH AKHIRUSSANAH
MTs-MA-PONDOK PESANTREN AL ADZKAR
PUCANG GADING MRANGGEN DEMAK
TAHUN PELAJARAN 2017/ 2018

Senin, 30 April 2018

Tausiah Oleh Bp. K.H. Shodiq Hamzah
(Pengasuh Ponpes Asy Shodiqiyah Semarang)


Wisudawan Kelas IX

Sambutan oleh Bp.K.H. Drs. Malikun
Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading

Sambutan Oleh Wali Santri



Wisudawan Kelas XII





Pemberian Hadiah Santri Berprestasi

Prosesi Wisuda

Pemberian Hadiah Wisudawan/ wisudawati berprestasi

Penyerahan Ijazah





Prosesi Wisuda







Kamis, 03 Mei 2018

Mempersiapkan diri untuk bulan yang suci



MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK BULAN YANG SUCI

Oleh : Abah Malikun
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading)



     1.      Pendahuluan

             Waktu terus berlalu; dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga tidak terasa Ramadhan (=bulan suci) hampir tiba kembali. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW terus kita ucapkan bahkan menjadi puji-pujian di masjid-masjid atau mushala-mushala, Allahumma barik lanaa fii rajaba wasya’bana wabalighna ramadhana   (=Ya Allah berkahi kami pada Rajab dan Sya’ban serta antarkan kami menikmati keindahan Ramadhan yang suci). Dengan doa tersebut, kita senantiasa diingatkan tentang kesiapan menikmati kesucian Ramadhan.

             Sya’ban merupakan jembatan yang menghubungkan bulan Haram/Rajab dan bulan Suci/Ramadhan. Para ulama menyebul Sya,ban sebagai syahrun litathhirul qalbi (=bulan untuk membersihkan hati) untuk menyongsong bulan suci Ramadhan. Bersih-bersih dalam kenteks tersebut adalah bertobat dari semua dosa agar dalam bulan suci tersebut kita dapat mmerasakan kenikmatannya. Di samping itu, hati harus ditanamkan rasa senang akan datangnya bulan suci Ramadhan karena rasa senang tersebut diberi pahala berupa terhalangnya jasad dari api neraka pada hari kiamat.[1]

             Bagaimana pun keadaan kita, apakah kita siap atau tidak siap, maka bulan Ramadhan pastilah akan datang, dan tentu beruntunglah orang yang sudah mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan, karena dengan persiapan tentu saja hasilnya akan lebih baik. Berbicara tentang persiapan, apa yang mesti kita persiapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan? Berikut ini, penulis berikan beberapa hal yang dapat kita jadikan referensi.

Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

    I mam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kit...