Senin, 12 Januari 2026

4 Mutiara pada Manusia akan Hilang karena 4 perkara


Sabda Rasulullah Saw. yang dijabarkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Albantani;

اَرْبَعَةٌ جَوَاهِرٌ فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُها اربَعَةُ اشْياءَ، امَا اجَواهِرُ العَقْلُ، والدِينُ، والحَياءُ، والعَمَلُ الصالِحُ، فالغَضَبُ يُزِيْلُ العَقْل، والحَسَدُ يُزِيْلُ ادِينَ، والطَمَعُ يُزِيْلُ الحَياءََ، والغِيْبَةُ يُزِيْلُ العَمَلَ الصالِح

“Empat macam mutiara yang ada pada diri manusia dapat hilang dengan empat perkara yang lain. Empat mutiara itu ialah: akal, agama, malu, dan amal saleh. Kemarahan dapat menghilangkan akal, hasud (dengki) dapat menghilangkan agama, tamak dapat menghilangkan malu, mengumpat (ghibah) dapat menghilangkan amal saleh”. 

7 Golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

   سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ  

  7 golongan yang dinaungi Allah dalam naungannya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah: 

Barang Siapa Duduk Dengan 8 Golongan manusia maka Allah akan menambahkan 8 Perkara

Imam Nawawi Al Bantani dalam Syarah Nashaihul 'Ibad, halaman 23-24 mengutip perkataan fakih Abu Lais tentang beberapa kriteria berteman, ada diantaranya yang perlu kita hindari karna merugikan akhirat kita, ada juga yang perlu terus disertai agar kebahagiaan dunia dan keuntungan akhirat berpihak pada kita.

Ada delapan (8) kriteria golongan teman, diantara beberapa kriteria tersebut adalah :

Barang siapa yang duduk berkumpul bersama delapan kalangan teman, niscaya Allah akan  menambahkan kepadanya delapan perkara tersebut.

Minggu, 11 Januari 2026

Kisah Nabi Luth 'Alaihissalam

Nabi Luth ‘alaihissalam berhijrah bersama pamannya yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menuju Mesir. Keduanya tinggal di sana beberapa lama, lalu kembali ke Palestina. Di tengah perjalanan menuju Palestina, Nabi Luth meminta izin kepada pamannya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk pergi menuju negeri Sodom (di dekat laut mati di Yordan) karena Allah telah memilihnya sebagai Nabi-Nya dan Rasul-Nya yang diutus kepada negeri tersebut, maka Nabi Ibrahim mengizinkannya dan Nabi Luth pun pergi ke Sodom serta menikah di sana.


Ketika itu, akhlak penduduknya sangat buruk sekali, mereka tidak menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan tidak malu berbuat kemungkaran, berkhianat kepada kawan, dan melakukan penyamunan. Di samping itu, mereka mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelumnya di alam semesta. Mereka mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwatnya dan meninggalkan wanita.

Saat itu, Nabi Luth ‘alaihissalam mengajak penduduk Sadum untuk beriman dan meninggalkan perbuatan keji itu. Beliau berkata kepada mereka,

“Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 160-161)

KISAH SANTRI YANG DURHAKA

 

Kisah ini menjadi ikhtibar atau pembelajaran kepada para santri. Dikisahkan ada seorang santri yang sedang nyantri di Rubat Tarim dan diasuh langsung oleh Habib Abdulloh Assyatiri, santri tersebut dikenal sangat alim, cerdas dan pintar hingga mampu menghafal Kitab Tuhfatul Muhtaj 4 jilid, bahkan diprediksi oleh banyak orang sebagai calon ulama besar pada masa yang akan datang.

Suatu hari disaat Habib Abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba-tiba sang Habib bertanya kepada santri yang lainnya tentang kemanakah santri yang sangat terkenal pandai dan cerdas tersebut.  “Kemana si fulan?” Semua santri bingung dan tidak bisa menjawab pertanyaan sang guru. Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok, melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin. Akhirnya Habib Abdulloh As Syatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata : “baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!”.

Jumat, 09 Januari 2026

3 Kunci Menuntut Ilmu yang Masyhur dikalangan Pesantren


Dalam maqolahnya Sayyid Ahmad bin Muhammad al-Maliki menyampaikan bahwa :
1. Tetapnya ilmu (melekatnya ilmu) diperoleh dengan mudzakaroh (mengulang-ulang), maka untuk para santri jangan pernah bosan untuk mengaji dan tetap mengulang-ulang walaupun sudah katam kitabnya agar ilmu benar-benar melekat didalam hati. 
2. Keberkahannya dengan khidmah (melayani/berbakti), baik kepada Kyai maupun keluarga kyai santri harus senantiasa taat dan patuh agar memperoleh keberkahan dari ilmu yang sudah dipelajari. 
3. Manfaatnya ilmu dengan ridha guru (Syekh),  ridho guru adalah salah satu cara agar ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat.
dengan kalimat Arabnya "ثبات العلم بالمذاكرة، وبركته بالخدمة، ونفعه برضا الشيخ". Ini berarti ilmu akan kuat dan melekat di ingatan melalui pengulangan, keberkahan ilmu datang dari pengabdian kepada guru, dan manfaat ilmu yang sesungguhnya dirasakan dengan mendapatkan keridhaan dari guru. 



Dokumentasi Kegiatan Pramuka

 DOKUMENTASI KEGIATAN PRAMUKA

MTs - MA AL ADZKAR PUCANG GADING MRANGGEN DEMAK

TAHUN 2025

DI LAPANGAN TEMBAK TEMBALANG 17-19 DESEMBER 


















































Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

    I mam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kit...