Rabu, 10 April 2019

Menciptakan Pemilu Damai


MENCIPTAKAN  PEMILU DAMAI: 
Sebuah Keharusan
Oleh : Abah Malikun
(Pengasuh Ponpes Al Adzkar Pucang Gading Mranggen Demak)


1. Pendahuluan                                                                                       
               Sebagai negara demokratis, Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) setiap lima tahun untuk memilih anggota DPR, DPRD I, DPRD II, DPD, dan untuk tahun ini bersamaan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) masa bakti 2019-2024. Baik Pemilu maupun Pilpres merupakan pesta demokrasi yang di dalamnya terdapat semangat dan kegembiraan seluruh rakyat. Tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang tersisih, semuanya harus mau menerima hasil dengan gembira pula.

              Negara memberi hak kepada seluruh rakyat untuk dipilih (hak pilih pasif) dan memilih hak pilih aktif) sesuai dengan undang-undang atau ketentuan yang telah disepakati bersama baik oleh wakil rakyat (DPR) maupun lembaga yang berwenang (KPU). Hak untuk dipilh diberikan oleh negara kepada partai peserta pemilu dan siapa saja yang layak menurut ketentuan yang berlaku. Semuanya memiliki visi dan misi yang mulia untuk kejayaan negara dan bangsa ini. Oleh karena itu, kualitas mereka secara admistratif pasti sudah terjamin.

              Bagaimana halnya dengan kualitas pribadi? Untuk mengenali kualitasnya, perlu dilihat rekam jejak keterlibatan mereka dalam membangun bangsa dan negara bukan hanya mengobral janji atau bahkan menebar fitnah kepada lawan politiknya. Rekam jejak yang dimaksud adalah aksi dan pribadi mereka dalam kancah politik, sosial, agama dalam masyarakat.

Senin, 28 Januari 2019

Nabi Ibrahim A.S.

Kisah Nabi ibrahim A.S.

Nabi Ibrahim adalah putra Azar, keturunan Syam bin Nuh. Pada masa itu raja Namrud yang bertahta di negeri Mausul mengeluarkan undang-undang yang memerintahkan agar membunuh setiap anak laki-laki yang lahir di negeri Mausul. Keadaan ini sama dengan zaman Nabi Musa. Namun berkat rahmat Allah, Nabi Ibrahim lahir dengan selamat.

Orang tuanya menyembunyikan Nabi Ibrahim di dalam gua. Atas izin Allah Nabi Ibrahim tidak mati, padahal tidak seseorang pun yang memeliharanya. Tidak seekor binatang buas pun yang mengganggunya. Bila lapar dan haus ia hanya menghisap ujung jarinya maka keluarlah air susu.

Sejak kecil, Nabi Ibrahim telah terpelihara dari segala perbuatan jahat. Ketika usianya meningkat dewasa, Nabi Ibrahim mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa berhala-berhala yang terbuat dari batu dan tidak mampu berbuat apa-apa itu disembah dan dipuja-puja oleh kaumnya, kemudian ia mulai berpikir tentang Tuhan.

Rabu, 12 Desember 2018

Dokumentasi kemah Bakti

DOKUMENTASI KEGIATAN
KEMAH DI CURUG 7 BIDADARI SUMOWONO
MTs-MA AL ADZKAR PUCANG GADING MRANGGEN DEMAK
8-10 Desember 2018




























































Selasa, 20 November 2018

Zarkasi 2018

DOKUMENTASI KEGIATAN
ZARKASI MTs AL ADZKAR MRANGGEN DEMAK
TAHUN 2018


1. Ziarah Habib Ahmad Pekalongan
2. Ziarah Syech Syamsudin Pemalang
3. Ziarah Sunan Gunung Jati Cirebon
4. Masjid Istiqlal
5. TMII (Taman Mini Indonesia Indah)
6. Museum Bayt Al Qur'an
7. Gelanggang Samudra Ancol
8. Dufan (Dunia Fantasi)




















Kisah Inspiratif Suami Bersyukur dan Istri Bersabar yang Masuk Surga

    I mam Abul Qasim Ali bin Hasan bin Abdullah asy-Syafi’i, atau yang lebih masyhur dengan nama Imam Ibnu Asakir (wafat 571 H), dalam kit...